Minyak goreng bekas atau minyak jelantah ( used cooking oil/UCO ) biasa terbuang begitu saja. Padahal, minyak jelantah bisa bermanfaat sebagai bahan pengganti sebagian bahan baku crude palm oil (CPO) atau sawit dalam program biodiesel di Indonesia. Langkah ini, bisa kurangi limbah ke lingkungan hidup, berikan manfaat ekonomi, baik untuk kesehatan, dan pengurangan emisi gas rumah kaca hingga mendukung pembangunan daerah. Penggunaan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai alternatif bahan baku dapat mendukung program biodiesel di Indonesia. Studi dari lembaga International Council on Clean Transportation (ICCT) berjudul “Potential Economic, Health, and Greenhouse Gas Benefits of Incorporating Used Cooking Oil Into Indonesia’s Biodiesel” menyebutkan, Indonesia memiliki potensi minyak jelantah sebesar 1,64 miliar liter per tahunnya. Jumlah itu didapatkan dari pengumpulan intensif di restoran, hotel, sekolah, rumah sakit, maupun rumah tangga di perkotaan. Poten...
Minyak jelantah bisa bermanfaat sebagai bahan pengganti sebagian bahan baku crude palm oil (CPO) atau sawit dalam program biodiesel di Indonesia. Pakai minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel setidaknya mendulang beberapa manfaat, seperti bisa kurangi limbah ke lingkungan hidup, berikan manfaat ekonomi, baik untuk kesehatan, dan pengurangan emisi gas rumah kaca hingga mendukung pembangunan daerah. Ricky Amukti, Manajer Riset Traction Energy Asia, mengatakan, Indonesia punya potensi besar memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel. Tahun 2019, konsumsi minyak goreng Indonesia menghasilkan 13 juta ton minyak jelantah atau 16,2 juta kiloliter, hanya 18,5% sisa konsumsi minyak goreng dapat dikumpulkan sebagai bahan baku minyak jelantah. Tenny Kristiana, peneliti International Council on Clean Transportation (ICCT) bilang, kalau program biodiesel minyak jelantah harus ada kebijakan pemerintah. Minyak goreng bekas atau minyak jelan...
Komentar
Posting Komentar